[Palu_Redaksi94] _ Menurut Erickson (dalam Santrock, 2003) pengalaman romantis
pada masa remaja dipercaya memainkan peran yang penting dalam perkembangan
identitas dan keakraban. Pacaran pada masa remaja membantu individu dalam
membentuk hubungan romantis selanjutnya dan bahkan pernikahan pada masa dewasa.
Berdasarkan
hal diatas dapat disimpulkan pacaran adalah upaya mengenal karakter seorang
yang dicintai, dilakukan dua orang yang berbeda jenis kelamin yang belum
menikah dan tidak memiliki hubungan keluarga.
Pada
masa pacaran terdapat berbagai perilaku yang ditampilkan oleh para remaja untuk
menunjukkan rasa cinta masing-masing, baik dalam perilaku yang sangat banyak
berkorban dalam hal apapun untuk memenuhi keinginan pasangan mereka dalam
perkataan dan termasuk didalamnya melakukan aktivitas seksual (Saumiman, 2005).
- Perilaku
berciuman dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
- Cium
Kening
Aktivitas yang dilakukan
pasangan berupa sentuhan pipi dengan pipi atau pipi dengan bibir. Hal ini dapat
menimbulkan perasaan sayang jika diberikan pada saat-saat tertentu dan bersifat
sekilas, tettapi juga dapat menimbulkan keinginan untuk melanjutkan ke
perilakunya.
- Cium
Basah
Aktivitas yang dilakukan
pasangan berupa sentuhan bibir dengan bibir. Dapat menimbulkan sensasi seksual
yang kuat yang membangkitkan dorongan seksual hingga tidak terkendali.
- Meraba
Kegiatan meraba
bagian-bagian sensitif untuk menimbulkan rangsangan seksual, seperti payudara,
leheer, paha atas, vagina, penis, pantat dan lain-lain. Hal ini dapat membuat
pasangan terangsang secara seksual, sehingga melemahkan kontrol diri yang
akibatnya bisa melakukan aktivitas seksual lainnya dalam berpacaran.
- Berpelukan
Aktivitas yang dilakukan
pasangan, dan hal ini dapat menimbulkan perasaan aman, nyaman, dan tenang, juga
dapat menimbulkan rangsangan seksual.
- Masturbasi
Perilaku merangsang organ
kelamin untuk mendapatkan kepuasaan seksual.
- Oral
Aktivitas yang dilakukan
pasangan berupa memasukkan alat kelamin ke dalam mulut pasangan yang berbeda
jenis kelamin.
- Petting
Kontak fisik dengan
menempelkan alat kelamin pria dan wanita sebagai upaya untuk membangkitkan
dorongan seksual tanpa melakukan intercourse.
- Intercourse
Aktivitas seksual dengan
memasukkan alat kelamin pria ke dalam alat kelamin wanita.
Setelah
mengetahui beberapa bentuk perilaku dalam berpacaran, perlu juga untuk
mengetahui faktor-faktor yang memicu remaja melakukan perilaku seksual
(Widyarso, 2006), yaitu :
1.
Faktor Kuat
a.
Media
Sebagian
besar dari 1705 anak SD kelas 4, 5 dan 6 di Jabotabek ternyata telah
bersinggungan dengan pornografi, dalam berbagai format dan lewat berbagai media
seperti majalah, tabloid, internet dan film porno. Di kalangan remaja, usia
rata-rata saat mereka pertama kali bersentuhan dengan pornografi baik melalui
majalah, internet, dan lain sebagainya adalah 11 tahun. stimulus (pendorong)
awal adalah gambar-gambar dan foto-foto yang memuat pornografi.
b.
Perkembangan Teknologi
Teknologi
berfungsi sebagai sarana pemberi informasi, pemberi identitas pribadi, sarana
intergrasi, interaksi sosial dan sebagai sarana hiburan oleh karena itu
kemajuan dalam teknologi berkomunikasi merupakan sesuatu yang patut disyukuri,
sebab berbagai pemenuhan kebutuhan hidup manusia menjadi lebih mudah. Handphone
adalah Salah satu bukti terjadinya perkembangan pada bidang teknologi
komunikasi. Pada dasarnya, teknologi membawa implikasi positif dalam sejarah
kehidupan manusia namun implikasi negatif muncul ketika banyak pelajar yang
menggunakan handphone dengan berbagai fasilitas canggih di dalamnya untuk
hal-hal yang tidak wajar. Salah satunya berhubungan dengan pembuatan dan
penyebarluasan gambar-gambar dan video porno. Dengan berkembangnya teknologi
sekarang ini maka, alat-alat informasi seperti handphone berkamera, televisi,
majalah, film, dan internet pun menjadi sarana mudah dan tak terbantahkan yang
menjadi media penyebaran informasi dari setiap kasus pornografi.
c.
Rekan sebaya atau lingkungan pergaulan
Di
kalangan remaja pengaruh teman cukup besar dalam membentuk watak dan
kepribadian seseorang ketika remaja. Memiliki banyak teman merupakan satu
bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak teman, makin tinggi nilai mereka di
mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan terbatas
(misalnya anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat pemerintah
setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang lainnya). Hampir
sebagian besar waktu bagi remaja dihabiskan dengan teman sebaya, karena salah
satu ciri khas dari masa perkembangan remaja adalah keterikatan dengan teman
sebaya. Hal ini berarti banyak sekali nilai-nilai, cara pandang, prinsip hidup,
yang dipertukarkan dalam pergaulan sehari-hari. Terkadang ada hal (nilai-nilai)
baik yang diserap dari pergaulantersebut, tetapi tidak jarang ada juga beberapa
hal yang negatif menjadi lebih menarik untuk ditiru oleh remaja.
2.
Faktor Lemah
a.
Keluarga
Orang
tua mempunyai peranan penting dalam menjaga perilaku generasi muda karena orang
tuanya merupakan contoh bagi remaja. Apabila sikap yang buruk dari orang tua
tertanam dalam cara bergaul remaja, maka akan menjadi hal yang sulit untuk
merubahnya dan mengoreksinya. Sedangkan bagi orang tua, hendaknya mereka lebih
menjaga sikap demi generasi muda. Dewasa ini, banyak orang tua yang kurang
memperhatikan kondisi psikologi remaja. Hal tersebut disebabkan karena orang
tua sudah sibuk dengan pekerjaannya dan tidak mempunyai waktu untuk berkumpul
bersama keluarganya. Dalam menjaga pergaulan remaja yang sehat tanpa seks
bebas, Orangtua hendaknya memberikan pengarahan, penanaman moral yang kuat,
bersikap seimbang antar pengawasan dengan kebebasan serta yang paling penting
orang tua dapat mencoba berkomunikasi lebih dekat lagi dengan anak-anaknya.
Mereka dapat menjadi tempat anak-anaknya bercerita tentang segala pengalaman
hidup sehinga terhindar dari pengaruh pergaulan yang merugikan.
b.
Sekolah
Sekolah
adalah satu lembaga yang cukup berperan penting. Pendidikan seksual diberikan
untuk memberikan informasi kepada pelajar agar mendapatkan informasi yang benar
mengenai reproduksi dan pengawasan juga dilakukan karena sebagian besar waktu
pelajar dihabiskan untuk sekolah. Salah satu alternatif yang ditawarkan untuk
menghindari remaja memiliki perilaku tidak sehat seperti seks bebas adalah
dengan mencoba menambah kegiatan di sekolah seperti mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler diluar jam belajar untuk mengisi waktu luang agar tidak
terjerumus pergaulan yang salah.
c.
Institusi Agama
Dalam
usaha memerangi perilaku seks bebas dalam kehidupan remaja, pendidikan agama
juga tak kalah pentingnya dari pendidikan tentang seks. Norma-norma agama dapat
ditanamkan dalam gaya hidup remaja untuk mewaspadai hal yang tidak diinginkan.
d.
Masyarakat
Masyarakat
berperan dalam melakukan pengontrolan terhadap perilaku seks remaja dengan cara
bekerjasama dengan pemerintah, institusi agama maupun melalui keluarga. Kontrol
dari masyarakat bisa ditunjukkan dengan cara mempersempit ruang gerak terhadap
aktivitas seksual remaja yang mengarah pada seks bebas.
e.
Pemerintah
Peran
Pemerintah adalah melakukan pengontrolan terhadap media dan juga sarana
teknologi dengan cara membuat regulasi terhadapnya. Karena lembaga sensor yang
sekarang ada dianggap sudah mulai bergeser untuk lebih mengakomodir aktivitas
yang mengarah kepada perilaku seks bebas. Hal ini terlihat pada tahun 70-an
adegan ciuman tidak diperbolehkan sama sekali, pada tahun 80-an adegan tersebut
mulai muncul dan kini di era 2000-an sudah marak film Indonesia yang beradegan
ciuman. Ini berarti terdapat pergeseran. Pergeseran juga terjadi dalam hal
peredaran VCD porno. Pemerintah perlu membuat regulasi yang jelas untuk
menangani permasalahan ini. karena sekarang begitu mudah keberadaannya dapat
diakses oleh siapa pun, termasuk anak-anak di bawah umur sekalipun. Lembaga
yang turut mendukung lemabaga sensor film adalah lembaga kepolisian yang dapat
bekerja sama dengan masyarakat untuk menertibkan peredaran pornografi.
Interaksi
kedua faktor di atas dapat dilihat lebih jelas pada bagan di bawah ini :


Tidak ada komentar:
Posting Komentar